Dalam suara keramaian, keinginan maupun keputusan individu seringkali memudar. Fenomena “herd mentality” (disebut juga mob mentality dan crowd mentality) atau mentalitas kawanan kini marak dibicarakan karena dampaknya kerap dirasakan pada kehidupan sehari-hari. Mengapa manusia begitu mudah terpengaruh arus kolektif bahkan sampai mengorbankan keinginan maupun logikanya sendiri?
Apa dan Mengapa Herd Mentality Muncul?
Herd mentality merupakan sebuah kondisi dimana seorang individu mengadopsi keyakinan kelompok dan seringkali mengabaikan pendapatnya sendiri. Ada banyak faktor yang mempengaruhi fenomena ini bisa terjadi, antara lain kebutuhan untuk menjaga hubungan sosial, ketidakpastian atau kebingungan, dan efek tekanan akan kepemimpinan.
Also Read
Ada dua teori yang menggambarkan fenomena ini yakni teori konformitas dan teori identitas sosial. Konformitas adalah salah satu pengaruh sosial yang mendeskripsikan perubahan perilaku atau kepercayaan menuju tujuan kelompok atas dasar tekanan kelompok, baik tekanan yang nyata maupun yang tidak. Konformitas adalah kecenderungan semua anggota kelompok melakukan hal yang sama (Sekundar, 2017:67). Sementara itu, melansir dari laman Simplypsychology.org, teori identitas sosial oleh Henri Tajfel (1986) menjelaskan bagaimana individu mendefinisikan diri mereka berdasarkan kelompok mereka. Setiap individu akan memandang diri mereka sendiri berdasarkan karakteristik dan mengadopsi nilai, norma, dan perilaku kelompok tersebut.
Dampak pada Keputusan dan Perilaku
Herd mentality dapat membentuk pola perilaku individu, mulai dari perilaku konsumtif, trend digital, bahkan hingga keputusan investasi. Apabila setiap orang cenderung mengikuti perilaku mayoritas tanpa melakukan riset rasional yang mendalam, ini akan sangat mempengaruhi kehidupan mereka. Berikut beberapa ulasan singkat herd mentality mempengaruhi perilaku manusia.
Pola Perilaku Konsumtif
Herd mentality cenderung mempengaruhi perilaku konsumsi masyarakat. Fenomena “produk viral” seringkali membuat individu secara impulsif membeli sebuah produk hanya karena sedang tren meskipun mereka tidak benar-benar menginginkannya maupun membutuhkannya. Contohnya nyatanya seperti gadget terbaru, fashion terbaru, tempat makan viral, ataupun hal-hal lain yang sedang viral di media sosial.
Tren Digital
Semua orang pasti menyadari bahwa herd mentality ini seringkali terasa melalui interaksi di media sosial. Hampir setiap hari tren yang baru tercipta di media sosial dan rasa-rasanya sebagian dari kita merasa seperti mendapat “paksaan” harus mengikuti tren tersebut. Meskipun awalnya mereka tidak memiliki ketertarikan, namun dengan masifnya bombardir informasi atau sebut saja besarnya kekuatan massa akhirnya mampu mempengaruhi banyak orang. Orang-orang secara umum menyebutnya fenomena ini dengan sebutan F.O.M.O. (Fear of Missing Out) atau perasaan khawatir akan ketinggalan tren.
Pengambilan Keputusan Investasi
Herd mentality juga secara signifikan mempengaruhi keputusan investasi di pasar modal seperti menyebabkan market bubbles dan aksi panic selling. Harga sebuah aset bisa melonjak tinggi maupun jatuh sangat dalam karena keputusan investasi dipengaruhi tren tanpa memahami value dan potensi jangka panjangnya. Dua fenomena besar yang pernah terjadi adalah dot-com bubble pada akhir tahun 1990an dan Crypto Frenzy tahun 2017.
Sisi Positif dan Negatif Herd Mentality
Herd mentality sering mendapat cap negatif karena kecenderungannya mendorong kita berperilaku irasional dan impulsif. Namun pada kasus tertentu, herd mentality juga berdampak sangat positif. Meningkatkan solidaritas saat situasi krisis ataupun darurat adalah salah satu manfaat positif dari herd mentality. Sisi positif yang lain, dengan herd mentality kita bisa membangun kekompakan kerjasama di lingkungan kerja dengan baik dan mendorong kepatuhan terhadap aturan maupun norma sosial yang berlaku.
Sisi negatifnya sudah jelas tergambar dari pemaparan di atas bahwa setiap individu cenderung mengambil keputusan secara tidak rasional dan impulsif. Kita juga akan cenderung takut menyuarakan pendapat pribadi karena perasaan khawatir akan menyebabkan masalah apabila berbeda dengan mayoritas.
Untuk menghindari dampak negatif tersebut, perlu dilakukan beberapa pendekatan yang bijaksana misalnya
- Mengutamakan pemikiran kritis dan analisis mandiri, karena tidak semua orang cocok pada satu hal. Setiap individu memiliki preferensi masing-masing sehingga harus tanyakan pada diri sendiri berulang kali apa alasan membuat suatu keputusan, misal dalam berinvestasi.
- Mendukung budaya berbeda pendapat. Dalam kehidupan sosial penting kiranya anggota kelompok memiliki perbedaan pandangan agar terbukanya ruang diskusi dan pikiran kritis yang juga bertujuan meninjau sebuah masalah dengan multiperspektif.
- Ambil keputusan sesuai data dan fakta. Sebuah keputusan hendaknya sesuai dengan data dan fakta yang sudah terverifikasi, bukan sekadar suara mayoritas. Analisis data seperti ini dapat membantu kita mengurangi dampak negatif dari herd mentality.
Sumber
Sukendar, Markus Utomo. 2017. Psikologi Komunikasi: Teori dan Praktik. Deepublish: Yogyakarta












